Hijab I’m in Love

January 27, 2013 § Leave a comment

from http://ikhlasitt.wordpress.com/2013/01/27/hijab-im-in-love/

sebuah tulisan yang menarik dan inspiratif. terlebih ini adalah tulisan perdana pejuang #IKHLAS2011, sangat layak diapresiasi.

Selamat Menikmati 🙂

————————————————————————————————————————————————————————

Terimakasih Ummi.. Kau Perkenalkan Aku dengan Hijab

Jakarta, 1988-1990..

Saat jilbab masih menjadi hal yang asing. Saat jilbab bahkan dilarang oleh penguasa pada zaman itu. Saat kebanyakan orang memandang jilbab dengan tatapan aneh. Tapi di saat itu, masih ada segelintir orang yang tetap berpegang teguh dengan identitasnya. Jilbab. Ya, sepotong kain yang menjadi identitas mutlak seorang muslimah.

Ela Komalasari, biasa dipanggil Ela. Seorang remaja yang baru saja hijrah dengan identitas barunya. Ya, di masa putih abu-abunya ia memberanikan diri untuk menyempurnakan idnetitasnya sebagai seorang muslimah. Ditengah tatapan sinis ibu kota, kadang ia pun terhempas dengan tekanan-tekanan yang menderanya. Maklum saja, ia masih baru.

“Bismillah.. kuatkan hambaMu ini ya Rabb..” Batinnya mencoba bertahan. Ia percaya bahwa Allah akan senantiasa menolong hambaNya yang berada di jalanNya. Setiap pagi dengan kemeja lengan panjang membentang, rok abu-abu 5 cm dibawah lutut, kaus kaki melapisi hingga 3 cm di atas lutut, dan.. sepotong kain putih yang dipadukan untuk menutup rambutnya yang hitam lebat. Terlihat aneh memang. Mungkin penampilan macam Ela hanya ada 10 : 100 di kota metropolitan ini.

Dengan semangat Ela berangkat pagi-pagi menuju sekolahnya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Seperti biasa ia menunggu bus yang biasa membawanya menuju sekolah. Saat ia menaiki bus, semua mata tertuju padanya. Tatapan-tatapan aneh seolah menghujam dirinya. “ih… ada ninja. Haha” beberapa ABG seusianya tak segan menertawakan Ela. “ya Rabb.. kuatkan hamba..”

Di sekolahnpun rintangan terus mendera. Sekolah melarang murid-muridnya mengenakan jilbab di lingkungan sekolah. Mau tak mau, dengan sangat sangat berat, Ela harus melepaskan jilbabnya. “Engkau yang Maha Tahu ya Rabb.. ampuni hamba.” Namun, setelah sekolah usai, Ela kembali megnenakan jilbabnya.

Untungnya Ela memiliki beberapa orang yang sering menguatkannya untuk tetap bertahan. Mba Eni, Mba Novi, merekalah sebagian orang yang juga sama-sama menjunjung identitasnya sebagai seorang muslimah. Walau denga banyak rintangan, Allah tetap menjaga mereka dengan limpahan kasihNya.

Ya… itulah saat revolusi jilbab. Hingga akhirnya saat ini, jilbab bukan menjadi sautu hal yang asing. Bukan suatu hal yang aneh. Bersyukurlah bagi kita yang bisa merasakan perjuangan orang orang terdahulu kita yang berjuang keras hingga akhirnya kita saat ini bisa dengan mudah menampakkan jilbab dimanapun kita mau.

Kisah yang lain pun terjadi di saat yang berbeda. Di saat zaman semakin modern, di saat yang kata orang zaman sudah semakin bebas. Namun… apakah semangat berhijab itu masih segencar saat dulu Ummi? Saat di zaman yang kau rasa penuh banyak rintangan.

Jakarta, 1999…

Aku merasa aneh di tengah keramaian ini. Mengapa hanya aku yang berbeda?? Seragam putih merahku sama. Hanya saja.. “Mi, mengapa hanya aku sendiri yang pakai jilbab? Kok teman-temanku yang lain ga pake Mi?” polos aku bertanya pada Ummi. Saat itu yang kuingat, ummi hanya tersenyum dan kami makan ice cream bersama. Hingga akhirnya aku lupa dengan pertanyaanku tadi. Maklum saja, semasa SD aku sekolah di SD negeri, dan saat itu akupun masih kelas 1 SD. Masih polos…

Jakarta, 2005..

Aku beberapa kali tidak datang ke TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Banyak sekali alasan yang kubuat. Entahlah, saat itu yang kurasa, aku malas sekali. Aku lebih suka ikut bela diri ketimbang ngaji di TPA bersama anak-anak yang usianya jauh di bawahku. Saat itu aku duduk di kelas 1 SMP. Pikirku, masa iya masih terusan ikut TPA, udah tua begini.. mungkin bosan, aku butuh hal yang baru. Mungkin saja, karena aku berstatus sebagai anak TPA dari kelas 2 SD.

Hingga suatu hari, Abi berkata padaku, “Ka, ikut mentoring ya..” pintanya saat kami sedang iseng mengobrol bersama. “apaan tuh Bi mentoring?” tanyaku penasaran. “udah.. dateng aja dulu ya.. besok Abi anterin deh ke tempatnya.” Ucapnya merayu. “nih Abi, bikin penasaran orang aja deh..” batinku berbisik.

Dengan jeans gombrong, kemeja selutut, dan jilbab sekenanya, hari ini aku siap mentoring. Saat di jalan, aku masih memikirkan apa itu mentoring. Kamipun akhirnya sampai di sebuah masjid. Terlihat seorang kaka berjilbab lebar tersenyum sambil menghampiriku. “Yeni, titip Muthi ya..” ucap Abi ke kaka jilbab lebar itu. “iya pak insyaAllah..” jawabnya sambil tersenyum memandangku. “kenapa aku harus dititip-titip?” baitnku bertanya lagi.

Oooo jadi itu toh yang namanya mentoring. Duduk bersama melingkar sambil mendengarkan si kaka bercerita. Kadang timbul tawa, kadang riang celoteh teman-teman. “haha.. asik juga ya mentoring.” Batinku gembira. Sedikit demi sedikit, perubahan mulai tampak pada diriku.

Jakarta, 2008-2011…

Putih abu-abu, menjadi masa perubahan optimal pada diriku. Masa yang dulu sempat juga Ummi rasakan. Hanya saja kini suasana itu berbeda. Sekolah yang letaknya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan kini merupakan salah satu sekolah dengan jumlah wanita yang megnenakan jilbab cukup banyak. Peraturan tak boleh mengenakan jilbab di lingkungan sekolahpun sudah tak ada. Itu hanya berlaku saat itu. Dua puluh tahun silam…

Banyak aku mengenal sosok-sosok luar biasa di sekitarku. Teman-teman yang dengan luar biasa menemukan jalan cintaNya. Teman-teman yang berhijrah dengan kisahnya masing-masing. Kalika, mulai berhijab saat masih duduk di kelas 4 SD, tanpa suruhan, tanpa paksaan. Putri, saat mulai beranjak di bangku SMP, juga dengan kesadaran sendiri. Lili, yang subhanallah sekali saat awal berjumpa di SMA, aku mengenal sosok Lili yang sangat aktif, periang, terlihat lebih cantik dan anggun saat ia dengan mengejutkan setelah liburan lebaran sudah berjilbab. Banyak. Masih banyak lagi orang-orang hebat luar biasa yang kutemui, mereka berjilbab atas dasar kesadarannya karena itu merupakan kewajiban seorang muslimah.

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuan, dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruuh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S Al-Ahzab : 59)

“Mut, lu ga panas apa pake kerudung lebar kaya gitu?” polos seorang teman bertanya. “haha ga kok. Biasa aja.. gw lebih nyaman malahan kalo kaya gini.” Jawabku sekenanya. “emang dari kapan Mut lu pake jilbab?” sejenak aku terdiam…

Sempat terbersit dalam benakku. Ya Rabb, seandainya aku tak terlahir dari Ummi dan Abi, apakah aku akan menjadi seperti sekarang yang sejak dini sudah diperkenalkan tentang Islam oleh kedua orang tuaku?

Tanpa sulit aku pun telah mengenal jilbab dari Ummi.. apakah seandainya aku tak terlahir dari rahimnya, akan kukenakan selembar kain ini?

Kutemukan banyak sekali keindahan dalam jilbab ini. Ummi… terimakasih telah memperkenalkanku dengan hijab. Doakan semoga anak nakalmu ini tetap istiqomah.. aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Oleh :  Fathimah Muthi Luthfiyah

Where Am I?

You are currently browsing the Kisah Cerita category at keep running in the rain.